Cara Membuat Puisi yang Bagus dan Indah bagi Pemula

Berikut adalah langkah langkah yang memudahkan kita dalam menulis atau membuat puisi :

Tentukanlah pengalaman yang paling menarik yang bisa ditulis menjadi puisi. Tuliskanlah pengalaman dalam baris baris puisi dengan menggunakan kata kata yang padat kata kata bermakna kias atau konotatif yang bisa menjadi simbol atau lambang dari hal hal yang diceritakan dalam puisi tersebut.
Berlatihlah terus menerus untuk menulis puisi yang baik, bisa pada waktu senggang ataupun saat di sekolah ketika jam pelajaran kosong atau jam istirahat. Dengan banyak berlatih maka sahabat akan lebih mahir dan tidak kaku dalam menulis kata-kata maupun bait demi bait.
Renungkanlah dengan hati dan perasaan yang sesungguhnya. Karena dengan perasaan yang sedang kita alami, puisi akan lebih terlihat menjiwai ketika dibaca. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang sulit untuk mengambil kata demi kata. Mulailah dari perasaan diri kita sendiri yang sedang kita alami. Dengan seperti itu kita lebih mudah menemukan tema dan judul puisi yang akan kita tulis.
Setelah semuanya dinilai cukup baik dan pantas untuk dibaca oleh orang lain, maka jangan pernah sungkan untuk  mempublikasikannya pada isi majalah dinding atau mengirimkannya media sosial ataupun layanan online lainnya. Siapa tahu setelah kita  mempublikasikannya, puisi-puisi kita jadi terkenal bahkan sangat bermanfaat untuk orang lain dalam kegiatan membaca, terlebih jika ada perlombaan atau event-event khusus dalam menulis. Maka saya sarankan jangan pernah takut dan malu untuk menulis puisi, mulailah dari hal terkecil dan jangan pernah merasa bahwa tulisan atau puisi yang kita buat kurang memuaskan. Percaya diri dan tekun adalah kuncinya.
Semoga dengan adanya postingan belajar menulis puisi ini sahabat bisa lebih tekun dalam menulis puisi, lebih menghayati isi puisi, lebih percaya diri dalam membuat puisi.

tertata dalam menulis puisi.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai’ adalah sepotong baris puisi karangan Rako Prijanto yang juga terkenal di film layar lebar Ada Apa dengan Cinta. Mungkin sudah tidak asing lagi telinga kita mendengarnya. Puisi ini, dalam filmnya, membuat Rangga memenangkan lomba puisi di sekolahnya, sekaligus menarik perhatian Cinta. Hihihi. Bagus, kalau begitu, ya, puisinya?

Nah, tenang, kita juga bisa kok menulis puisi bagus seperti Rangga, atau Rako Prijanto di dunia nyatanya. Di sini,Ruang Puisi akan memberi tips-tips yang mungkin bisa membantu kalian untuk membuat puisi dan mengembangkan kemampuan menulis puisi kalian. Baca terus, yuk!

1. Judul Puisi

* sumber: inchoo.net

Judul merupakan salah satu daya tarik yang berperan penting untuk menarik minat pembaca. Jadi, ada baiknya jika kita memilih judul menarik dan catchy sehingga pembaca berminat dan akhirnya memutuskan untuk membaca puisi kita.

Biasanya, pembaca akan lebih tertarik dengan judul-judul yang unik dan tidak biasa. Kita bisa berkreasi untuk membuat judul sekreatif mungkin. Namun, tetap ingat relevansinya dengan isi puisi kita, ya!

2. Diksi

* sumber: t3ea.com

Diksi atau pemilihan kata menjadi keunikan sebuah puisi. Banyak puisi bagus yang terdiri dari pemilihan kata-kata sederhana, dipakai di keseharian dan tidak asing di telinga. Banyak juga puisi bagus dengan pemilihan kata-kata yang jarang dipakai atau didengar orang.

Sebenarnya, hal ini bergantung pada selera masing-masing. Tidak ada yang menuntut kita harus menggunakan diksi seperti apa. Tetap ikuti saja keinginan jari dan hati kita, ekspresikan diri sendiri; tergantung gaya menulis kita masing-masing.

Jika gaya menulis kita memang sederhana, tuliskanlah puisi dengan bahasa yang sederhana. Jika kita lebih suka menulis puisi dengan kata-kata yang rumit dan ‘bersayap’, tidak usah ragu untuk menuliskannya juga.

3. Rima

* sumber: www.theodysseyonline.com

Ingat pelajaran Bahasa Indonesia, yang menerangkan rima a-b-a-b? Yup, rima juga sangat berguna untuk pembacaan puisi yang lebih tertata. Tidak jarang, memang, para penulis puisi mengabaikan keberadaan rima, terutama pada puisi baru, tapi rima menjadi esensial untuk menambah lantunan membaca.

Pembuatan rima juga merangsang sisi kreativitas kita untuk mencari kata-kata lain agar dapat memenuhi lantunan di kata sebelumnya. Tidak ada salahnya juga, kan, kita sebagai penulis puisi mengeksplor kata-kata baru?

Untuk pembaca, ternyata membaca kata-kata berima cukup signifikan. Pembaca disuguhkan permainan kata-kata, membuat mereka memiliki jalan dan cara lain untuk membaca suatu karya, terutama puisi. Rima juga membuat baik pembaca, maupun penulis sebagai pembaca, mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan suara bahasa dan memiliki kesadaran fonologis.

4. Bait

Eits, jangan samakan bait puisi dengan baris/larik puisi, ya! Perbedaannya, baris/larik puisi adalah satu kalimat atau satu baris di dalam bait. Yup, baris/larik adalah bagian dari bait. Bait sendiri adalah kumpulan baris/larik yang tersusun rapi.
Puisi lama biasanya membatasi satu bait terdiri dari empat larik. Namun, dalam kasus puisi baru, larik yang terdapat dalam sebuah bait tidak dibatasi. Contohnya bisa dilihat dari puisi dalam ilustrasi gambar di atas.

Bait biasanya digunakan sebagai cara penulis untuk berpindah topik atau fokus puisi. Misalnya, dalam bait pertama, penulis menyampaikan kasih sayangnya pada seorang tokoh bernama Leila. Di bait kedua, penulis ganti menyampaikan rindu dendamnya pada Leila.

Kita bisa membuat bait sesuai kemauan atau mengikuti jenis-jenis bait yang sudah ada, yaitu distikon (puisi dengan masing-masing dua baris di tiap bait), terzina (terdiri dari tiga baris per bait), kuatren (empat baris per bait), kuint (lima baris per bait), sekstet (enam baris per bait), septima (tujuh baris per bait), oktaf atau stanza (dobel kutrain; terdiri dari delapan baris per bait), atau sonata (terdiri dari empat baris di masing-masing dua bait pertama dan tiga baris di masing-masing dua bait terakhir).

5. Penutup Puisi

Puisi biasanya akan lebih mengena jika ditutup dengan akhiran yang dramatis dan ‘menusuk’ pembacanya, memungkinkan puisi agar bisa dibaca lebih dari satu kali. Pemilihan akhir puisi ini menjadi taktik yang bisa dimanfaatkan sebagai ungkapan ‘save the best for the last’, atau ‘siapkan yang terbaik di bagian akhir’.

Sumber : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *