Puisi Era Baru PUISI PATIDUSA

Puisi Era Baru PUISI PATIDUSA

#DOKUMEN_PATIDUSA

Adalah sebuah bentuk puisi terbaru di era saat ini, sejak diproklamirkan pada tanggal 27-8-2015,oleh Agung Wibowo Sejak diproklamirkan Puisi PATIDUSTA ini sudah memiliki Anggota yang lumayan Di grup facebook yang bernama PUISI PATIDUSTA (4,3,2,1)  memilik Anggota Aktif 4699 Anggota. Tentu ini adalah sebuah kemajuan di bidang sastra indonesia dimana genre baru dalam berpuisi pun memiliki kemajuan yang pesat. Baik lah untuk lebih jelasnya ini lah salah satu Penyampaian puisi PATIDUTA.

Sastrawan indonesia

PUISI PATIDUSA
( Empat Tiga Dua Satu )

Puisi format yang berbasis kosakata.

Pada 9 -8 -2015 adalah awal terciptanya sebuah puisi genre baru yang bertajuk Puisi Patidusa di media jejaring sosial Facebook. Dan diproklamirkan pada tanggal 27-8-2015.

Puisi ini adalah saya cipta sebagai bentuk kreatifitas Dan salah seorang teman sesama pemuisi, yaitu saudara Agus Supriyadi menamakan puisi ini adalah Patidusa dikarenakan memiliki format 4 kata, 3 kata, 2 kata, dan 1 kata.

Format patidusa memiliki keindahan bentuk yang terdiri dari sayap dan kerucut. Kekhasan puisi ini bisa dibaca terbalik dari baris bawah ke atas pada baitnya tanpa mengubah makna.

Bentuk standar patidusa;

A A A A
B B B
C C
D

E
F F
G G G
H H H H

Puisi Patidusa terdiri minimal 2 bait. Ketika seorang penulis merasa kurang cocok pada penggunaan salah satu format, maka bisa mengubah karyanya itu ke bentuk formasi lain sampai menemukan kecocokan dengan cara membalik formasi baris pada baitnya. Berdasar ketentuan estetika RASA RIMA RUNUT dan IMAJI sebuah puisi.

Ketentuan Format Patidusa;

1. Puisi Patidusa bukanlah puisi pemenggalan kalimat. Baris baitnya saling melengkapi satu sama lain seakan memiliki makna mandiri yang menjelaskan atau dijelaskan oleh baris sesudah atau sebelumnya.

2. Hindarilah kata hubung pada kalimat akhir baris karena akan menimbulkan konotasi pemenggalan kalimat yang menggantung makna. Misal

Contoh salah;

Aku
Renta yang
Hina dina antara
Sepanjang jalan lintas berliku

Kalimat puisi di atas adalah seolah dipaksakan untuk berformat patidusa dan bisa dipanjangkan menjadi “Aku renta yang hina dina antara sepanjang jalan lintas berliku”.

3. Patidusa tidak menggunakan tanda elipsis pada puisinya dan digantikan dengan tanda koma ( , ) saja. Alasan tidak digunakannya karena akan disalahartikan dalam bentuk sebuah puisi yang kurang memiliki keindahan pada kalimat puisinya. Sebagai contoh salah;

…. …. ….. ….
…. …. ….
…. ….
….

Kau
Indah sekali
Mewarna pelangi diam
Tiada kekata terucap asa

Keterangan; bait 1 adalah elipsis.

4. Pada pengulangan kata sempurna dan atau yang berawalan depan, dihitung 1 kata majemuk. Sebagai contoh;
Awan-awan
Angin-angin
Orang-orang
Berbaris-baris
Meratap-ratap

Boleh juga ditulis tanpa tanda hubung atau sesuai ketertiban dan keindahan tulisan saja. Semisal;

Awanawan
Anginangin
Orangorang
Berbarisbaris
Meratapratap

Berbeda dengan pengulangan kata yang berubah bentuk, dan atau berawalan pada akhir kata karena dihitung 2 kata. Semisal;

Hilir mudik
Hitam putih
Macam ragam
Antah berantah

Puisi Patidusa ada 4 formasi bentuk.

1. PATIDUSA ASLI / ORIGINAL

4-3-2-1, 1-2-3-4, 4-3-2-1 dst
Dalam contoh;

JELITAKU

Cantik berlekuk halus sempurna
Jengkal indah wajahmu
Biarkan kuraba
Diamlah!

Bahagia
Siratkan makna
Kebisuan penuhi rongga
Menatapmu, desirkan relung dada

Sekuat janji terikat padu
Berpeluk erat menyatu
Arungi bahteraku
Jelita

2. PATIDUSA BIAS

1-2-3-4, 4-3-2-1, 1-2-3-4 dst

JELITAKU

Diamlah!
Biarkan kuraba
Jengkal indah wajahmu
Cantik berlekuk halus sempurna

Menatapmu, desirkan relung dada
Kebisuan penuhi rongga
Siratkan makna
Bahagia

Jelita
Arungi bahteraku
Berpeluk erat menyatu
Sekuat janji terikat padu

3. PATIDUSA CEMARA

1-2-3-4, 1-2-3-4, 1-2-3-4 dst

JELITAKU

Diamlah!
Biarkan kuraba
Jengkal indah wajahmu
Cantik berlekuk halus sempurna

Bahagia
Siratkan makna
Kebisuan penuhi rongga
Menatapmu, desirkan relung dada

Jelita
Arungi bahteraku
Berpeluk erat menyatu
Sekuat janji terikat padu

4. PATIDUSA TANGGA

4-3-2-1, 4-3-2-1, 4-3-2-1 dst.

JELITAKU

Cantik berlekuk halus sempurna
Jengkal indah wajahmu
Biarkan kuraba
Diamlah!

Menatapmu, desirkan relung dada
Kebisuan penuhi rongga
Siratkan makna
Bahagia

Sekuat janji terikat padu
Berpeluk erat menyatu
Arungi bahteraku
Jelita


Agung Wig
Semarang 9 Maret 2016.

VISI DAN MISI PATIDUSA SERTA KEUNIKANNYA

Seni sastra dan perkembangannya memunculkan ide dan terobosan dalam kepenulisan sastra itu sendiri.

Diawali dari sastra kuno, lama dan baru, sampailah pada sastra kontemporer bercorak variatif.

Puisi berpola sebenarnya sudah ada sejak lama, seperti Haiku, Senryu juga Gurindam, Pantun serta lainnya yang menggunakan kosakata tertata. Sampailah pada puisi bebas yang banyak ditulis para sastrawan dan penulis

Puisi Patidusa ( 4321 ) muncul dari kegelisahan akan cara penulisan para sastrawan mapan maupun pemula yang masih saja keluar konteks tata bahasa terutama Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu serumpun.

Penggunaan bahasa kurang benar memunculkan makna arti yang berbeda pula. Dilihat dari kata yang membentuk kalimat saat ditulis lalu dibaca.

Meskipun begitu, ada hal yang selalu dijadikan bahan pembelaan yaitu Litentia Poetica.

Visi dan misi Patidusa adalah mengajak kembali para penulis karya untuk belajar bahasa yang baik terutama Bahasa Indonesia dan Melayu serumpun termasuk di dalamnya kosakata dan gaya bahasa.

Dengan Patidusa kita akan diarahkan untuk mengenal kata demi kata dalam membentuk kalimat sesuai format. Meskipun begitu pola patidusa masih menghormati hukum litentia poetica pada kata pengulangan sempurna. Bisa dibaca dalam pedoman patidusa.

Para penulis sekalian. Puisi Patidusa mempunyai keunikan-keunikan juga yaitu;

1). Keunikan penulisan puisi ini adalah bisa dibaca terbalik dari baris bawah ke atas di tiap baitnya. Malahan bisa juga dibaca dari bait sembarang sebagai awalan bait. Namun harus tetap sesuai alur cerita yang akan disampaikan.

2). Tiap baris pada bait seakan.mempunyai makna mandiri yang menjelaskan dan dijelaskan oleh baris sebelum atau sesudahnya. Sehingga membentuk alur kalimat yang bercerita dan PATIDUSA BUKAN PEMENGGALAN KALIMAT

3). Sekiranya penulis merasa kurang pas cocok pada penulisan suatu karya patidusa yaitu ketika “Dibaca vokal” maka bisa dibalik ke bentuk format lain. Misal penulis membuat Format Asli namun kurang menyentuh rasa dikarenakan ; Alur kalimat, intonasi pengucapan kalimat, dan susunan kalimat. Maka bisa dibalik ke Bias, Cemara ataupun Tangga. Dan begitupun sebaliknya.

4). Puisi bebas bisa digubah ke dalam bentuk Patidusa seperti halnya Lagu gubahan ataupun musik. Hal ini yang jarang terjadi di puisi format lainnya.

Salam santun sastra selalu.

Kangmas Agung Wig Patidusa
Smg 1-11-2016

PUISI PATIDUSA ( 4321 )
( Asli, Bias, Cemara, Tangga )

ALL FO(4)R ONE
ONE FO(4)R ALL

Banyak yang kurang jelas bahwa format Puisi Patidusa adalah;

“Semua formasi adalah satu, dan Satu formasi untuk semua.”

Adakalanya satu formasi karya patidusa bisa lebih tepat disusun menggunakan formasi lainnya setelah dibaca secara lisan ( vokal). Dikarenakan pengaruh

1). Intonasi kata dan kalimat
2). Alur cerita
3). Susunan kalimat

Misal sebuah contoh kalimat

Aku mencintaimu dengan sederhana

Dengan sederhana aku mencintaimu

Mencintaimu aku dengan sederhana

Aku dengan sederhana mencintaimu

Sebagaimana contoh di atas adalah letak intonasi, alur cerita, susunan kalimat yang memengaruhi dalam pemilihan karya penulisan format patidusa.

Agung Wig
Smg 11-12-2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *